SEPERTI DOAKU DI WAKAF

Hari yang begitu menyenangkan bagiku ketika aku menyadari bahwa aku sekarang adalah seorang mahasiswa di salah satu kampus swasta di daerahku. Namaku adalah Alfian Alfarizki, seorang pemuda yang berasal dari kota Praya dan mecoba kuliah di Mataram. Aku yang selalu bermimpi menjadi anak kuliahan saat aku masih duduk di bangku SD hanya karena salah satu sinetron  yang kusukai yaitu “Tersayang” yang dibintangi oleh Anjas Mara, Jihan Pahira dan Adam Jordan. Dalam lamunanku aku menerawang ke masa tersebut ketika aku sudah beranjak dewasa dan menggunakan pakaian yang bebas saat masuk kuliah, tidak lagi pakai seragam merah putih; kusangpun harus kupakai kalau tidak punya ganti, tapi kini aku telah menjadi mahasiswa pendidikan bahasa dan seni. Sayangnya, teman dekatku tidak mengambil jurusan yang sama, jadinya aku harus sendiri dan mencoba mencari teman baru. Andi adalah salah satu nama teman baruku. Dia tinggi dan putih, bahasa inggirisnya pun cukup bagus sehingga aku merasa senang dengan dia. Kemana pun dia pergi, saya ikut saja dan begitu juga sebaliknya. Hari-haripun saya lalui di bangku kuliah tapi tidak dengan teman baru saya itu lagi karena dia berada dikelas yang berbeda denganku. “Fian, saya harap kita sekelas ya..?” Aku pun mengharapkan hal tersebut tapi takdir mengatakan lain. Kami berada di kelas yang berbeda karena abjad nama kami.

Aku mencari teman baru lagi yang sekelas sampai akhirnya bertemu dengan seorang laki-laki yang jangkung, kulit sawo matang dan mengenakan topi, Khaerul namanya. Dia juga menjadi teman baikku di kelas itu karena kami hampir memiliki perangai yang sama yaitu periang. Kami selalu mempunyai cerita yang lucu untuk saling diceritakan satu sama lain. Kadang kalau aku mempunyai cerita yang baru, aku merasa tidak sabar ingin bertemu dengannya untuk menceritakan ceritaku itu. Dia pintar dalam bahasa Inggris sehingga aku banyak belajar darinya dan usianya juga lebih tua dariku sekitar selisih 3 tahun. Tak lama kemudian, seorang teman baruku pun datang lagi yang bernama Udin. Dia tidak terlalu bisa bahasa Inggris waktu itu tapi aku mengagumi semangatnya yang ingin belajar dan terus belajar. Kami bertiga menjadi Bestfriends dikelas itu. Kemana yang satu pergi, selalu dibuntuti oleh yang dua orang, sangat menyenangkan seperti itik takut kehilangan induknya.

Aku tak diizinkan untuk tinggal di kos-kosan oleh orang tuaku dengan alasan bahwa itu hanya membuang biaya saja. Jadi, aku pulang pergi dari Praya menggunakan sepeda motor, jaraknya sekitar 21 KM. Kadang aku berangkat pagi sekali kalau ada kuliah pagi dan pulangnya bahkan sampai malam sekitar pukul sebelas karena aku mengikuti latihan karate di kampus yang dimulai jam 8.30 P.M. Awalnya sih tak begitu terasa lelah berkendara motor tapi lama-kelamaan aku mengeluh akan keputusan orang tuaku untuk tidak menyewa kos-kosan, mungkin hemat tapi sekarang kesehatanku menjadi taruhannya.

Ada sesuatu yang membuat saya selalu penasaran dalam perjalanan pulang pergi itu, yaitu seorang wanita yang sepertinya pernah aku lihat, tapi dimana ya? Tanda tanya besar mampir dibenakku. Aku terkadang berpapasan dengannya dijalan dan karena aku agak pemalu dengan wanita yang belum aku kenal, jadinya aku hanya mengatakan “halo” di dalam hati sanubariku saja dan berharap bahwa dia juga mengatakan “halo juga” di dalam hatinya, mungkin sejenis ilmu telepati. Setiap saya melewati jalan dimana kami biasa berpapasan, aku selalu melihat sekitar dan berharap aku bisa berpapasan lagi dengannya. Akan senang hatiku dan mungkin akan membuatku seperti orang gila senyum-senyum sendiri di kelas. “Who is she?” tanya dalam hatiku. Semangat berangkat dan pulang kuliahpun menggebu-gebu dan membakar adrenalinku agar bisa bertemu dengannya.

Saat itu aku masih semester satu. Mengapa dia selalu hadir dalam alam lamunanku? Kapankah aku bertemu dia lagi. Harapan lelaki malang yang pemalu ini selalu nongol dalam dunia imajinasi sampai suatu kejadian yang tidak pernah kuduga dan membuatku merasa senang sekaligus tidak percaya. Perempuan berambut panjang dengan tubuh tinggi, berkulit putih dan berperangai bak bidadari itu ternyata mahasiswi kampus swasta yang sama denganku, bahkan jurusan dan semester kamipun sama. Ya Allah, sungguh tak pernah kuduga. Aku menjadi agak malu ketika berpapasan dengannya di kampus karena aku berpikir bahwa dia tahu aku adalah laki-laki yang selalu menyalipnya secara tiba-tiba, padahal aku melakukannya untuk menarik perhatiannya, sungguh cara yang tidak menjanjikan.

Setelah mengetahui bahwa dia adalah teman sekampusku, kami sering bertemu walaupun kelas kami berbeda. Tapi disinilah bodohnya aku yang tidak berani mendekatinya sehingga banyak lelaki yang menyalipku hanya untuk nyetor muka walaupun mukanya gak karuan sih, bahkan teman kelasku sendiri. Dia memang sering melihatku dengan tatapan yang menurutku berbeda dengan tatapannya ke lelaki lain. Aku merasakan perbedaan itu tapi aku tidak berani untuk menarik kesimpulan bahwa dia menyukaiku, “Ah tidak mungkin dia menyukaiku. Aku kan biasa aja,” keluhku dalam hati. Sempat berada pada satu kelas yang sama karena dosen yang menggabungkan kedua kelas kami. Tapi ya begitulah, aku masih saja menatap lantai yang berdebu itu saat dia menatapku. Aku pun masih belum mengetahui siapakah nama bidadari tak bersayapku itu. Ingin bertanya pada teman, takut aku diejek mereka. Akhirnya aku bertanya pada rumput yang bergoyang, tapi tak ada jawabnya, mungkin karena mereka keasikan bergoyang.

Keadaan ini berlanjut sampai kami semester lima di fakultas itu. Aku yang sudah mulai mengajar di sebuah lembaga kursus di kota itu memutuskan untuk berpindah kelas pada mata kuliah tertentu. Tujuanku adalah untuk menghindari jadwal mengajar dan kuliah yang bertabrakan, bukan bermaksud untuk sekelas dengan dia, tapi jadwal itu menuntunku untuk gabung dengan kelasnya. Begitu banyak kesempatan yang aku biarkan berlalu begitu saja hanya untuk bertanya “what is your name?”

Suatu malam ketika ada kuliah Cross Culture Understanding, aku sedang bercakap dengan temanku yang dari kelas itu, dosen yang ditunggu belum juga datang. Akhirnya aku putuskan untuk berdiskusi tentang daerah masing-masing dengan temanku itu yang akrab dipanggil Man; dari Dompu. Tiba-tiba ketertarikanku meneruskan pembicaraan dengan temanku terampas oleh perhatianku pada seorang wanita yang berjalan anggun dan jilbab putih yang menutupi rambutnya yang terurai panjang itu. Tak tahu kenapa dia mulai pake jilbab yang sebelumnya hanya terdapat sebuah bando indah menghiasi mahkotanya. Dia duduk tepat dibelakangku. Ya allah, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku berharap dia memanggilku tapi itu tidak mungkin karena dia seorang wanita, Jadi lelaki yang harus action duluan. Dia sendirian dibelakangku dan hanya memainkan handphonenya. Saya mencoba memberanikan diri menoleh kebelakang walaupun jantung terasa mau copot. “kok sendirian?” suaraku terbata mencoba menyapanya. Suara merdunyapun lansung menyirami gendang telingaku “oh iya ini. Gak ada temen.” Aku lansung mencoba menebak namanya yang sebenarnya sudah kudengar dari salah seorang temanku yang memanggilnya. “kamu Fiana kan?” tanyaku. Dengan lembut dia mengiyakan untuk memecahkan pertanyaan besar dalam benakku selama ini dan dia pun bertanya siapakah gerangan aku. “saya Alfian, salam kenal.” Aku tidak melewatkan kesempatan itu untuk meminta nomor handphonenya. Akhirnya, moment yang aku tunggu terjadi juga setelah sekian lama aku bergumul dengan rasa takut ini. Mulai dari saat itu, aku selalu mengirimkan pesan singkat kepadanya walau hanya untuk mengucapkan “selamat menunaikan ibadah shalat…” aku seolah menjadi marbot masjid.

Kami merasa nyambung dengan topik yang kami bahas. Dia sangat periang dan hobi ketawa sehingga kalau aku menelponnya, seolah aku mendengar siaran radio. Tapi rasa bosan untuk selalu mendengar kelembutan suaranya itu tak pernah ada. Yang ada cuma ingin selalu mendengarnya setiap nafas ini berhembus. Fiana memang wanita yang cantik di kampus itu sehingga aku pun merasa bangga bisa dekat dengannya, maklumlah aku kan tak seganteng Justin Bieber,  aku sederhana dan berpenampilan biasa saja. Aku senang mendengar gelak tawanya walaupun terkadang aku mengejeknya seperti ketawa kuntil anak.

Setelah beberapa hari aku mengenalnya, tidak tahu mengapa hati ini terasa ingin deket dengannya. Dia telah berhasil mengubah hidupku; Garam yang asin menjadi manis, keruh menjadi jernih, debu menjadi emas, pedih menjadi bahagia dan penjara menjadi danau. Dialah Fiana; bernama lengkap Fiana Fioleta. Melalui pesan singkat, dia mengatakn sesuatu padaku.

“Fian, sebenarnya aku selalu melihatmu ketika dari awal masuk kuliah. Ingin tahu siapa kamu.”

“aku juga begitu Na. Tapi aku malu untuk bertanya tentangmu.”

“kamu kan yang selalu menyalip aku dijalan secara tiba-tiba? Aku kaget banget sehingga mengatakan ‘kurang ajar to cowok’ tapi setelah melihat motor itu lagi di kampus yang kamu kendarai, rasa marah itu meredam.”

“ha ha ha,, maaf Na. Itu semua kulakukan untuk menarik perhatianmu saja.”

“kalau aku boleh jujur Fian. Aku suka ma kamu.”

Entah dari mana aku lansung mendengar suara gemuruh padahal langit sangat cerah. Entah mengapa aku merasakan getaran padahal tak ada gempa bumi. Ternyata itu adalah jantungku yang berdebar kencang; terdengar seperti gemuruh dan bergetar bak gempa bumi berpotensi Tsunami.

Aku tak mau kehilangan kesempatan itu. Dengan hati yang cenat cenut, aku menjawabnya, “aku juga suka ma kamu Na.”

“ha ha,, aneh ya. Kok bisa saling suka..”

“ya begitulah perasaan ^^”

Kata-kata terakhir yang akan kukatakan untuk benar-benar tidak menyianyiakan kesempatan ini walaupun memang terlalu cepat aku mengatakannya tapi harus kukatakan.

do you want to be my love?”

“maksudnya apa? Aku gak ngerti. Coba di translate ke bahasa sasak dong!!” pintanya manja.

melem jari berayengk?”

ha ha ha,, aku mele jari berayem (aku mau jadi pacarmu)

Apakah ini mimpi? Atau hanya halusinasiku saja? Bukan. Itu adalah fakta bahwa dia sekarang adalah pacarku. Wanita yang begitu kukagumi yang bahkan tak pernah sanggup lamunan ini untuk bermimpi menjadi kekasihnya tapi memang benar bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Tanggal 21 Januari 2012 peristiwa bersejarah sepanjang perjalanan cintaku terjadi.

Disetiap aku bernafas dan  melangkahkan kaki ini, selalu ada bayangannya didalam benakku. Dialah bidadari tak bersayapku yang akhirnya menjadi kekasihku. Memang masih terasa kaku sih antara kami berdua karena kami belum lama saling mengenal. Suatu malam ketika ada kuliah, aku duduk dibarisan bangku terdepan sedangkan dia dibarisan bangku paling belakang. aku tak henti melihat wajahnya yang cantik itu, sambil tersenyum simpul dia menatapku hingga aku tak sadar bahwa kami sedang belajar. Itulah cinta yang buat orang lupa segalanya. Tapi sayang, masa indah itu tak berlangsung lama. Entah mengapa setelah empat hari hubungan itu berjalan, dia meminta dalam kelembutan dan santun ucapanya untuk break. Tapi aku tak merasakan kelembutan itu. Aku hanya merasakan kesedihan. Tapi aku tak bisa memaksanya untuk tetap denganku karena itu haknya. Aku berusaha mengerti alasan yang dia utarakan padaku. Dia ingin mengenalku lebihjauh sebelum membangun hubungan itu. Akhirnya kami menjadi teman yang cukup deket untuk saling mengenal satu sama lain.

Perpustakaan adalah tempat yang selalu aku kunjungi, tak perduli pagi ataupun malam. Yang penting buku-buku disana tidak pernah mengeluh dikala aku ingin membuka mereka, dengan senang hati mereka akan memberikan ilmu yang aku butuhkan. Fiana adalah mahasiswi yang rajin sekali membenci perpustakaan sehingga bisa dikatakatakan dia cuma sekali memplototin buku-buku tak berdosa itu disana dari semester satu sampai lima. Tapi setelah mengenalku, aku sering mengajaknya ketemuan disana sehingga daftar hadir pengunjung perpustakaan sudah mulai tertulis namanya disana.

Kami sering bercanda walaupun di dalam perpustakaan. Ketawanya yang membelah semua kesedihan semua makhluk bumi ini tak terhankan lagi saat aku bercerita lucu.

“Na, sssssttttt. Pelan-pelan ketawanya,” pintaku pelan.

“okeyh…okeyh…^^.”

Kata “okeyh” yang dia ucapkan ternyata cuma berdampak beberapa detik, setelah itu lansung ketawa besar sekali. Maklumlah dia kan pendatang baru di perpustakaan. Mungkin dikira pasar. Itulah dia yang selalu ceria. Dasar Fiana.

Walaupun kami bukan sepasang kekasih lagi tapi aku selalu mengatakan kepadanya bahwa aku menyayanginya. Aku tak tahu apakah perasaan suci itu juga dirasakan oleh dia, aku berharap begitu. Ketika aku sedang di perpustakaan beberapa hari setelah pertemuanku dengannya disana, handphoneku bergetar menandakan ada SMS masuk. Ternyata itu dari Fiana.

“Alfian..,” dia membuka pembicaraan melalui SMS.

“ya Na?” jawabku sambil tersenyum.

Kamipun terus berlanjut mengirim pesan sampai pada ucapan yang selalu ku ketik lewat handphone bututku ini “aku sayang ma kamu.” Tanpa menunggu lama, dia langsung membalas pesanku. Aku tidak tahu apakah dia bercanda atau serius mengatakan hal ini. Di Inbox ku tertulis “buktinya mana?”

“baiklah, aku akan buktikan. Aku akan berjalan kaki sejauh 21 KM pada tanggal 12 Februari. Gimana? Deal?” aku mencoba menawarkan.

Deal,” dia menyetujui.

Tibalah pada hari itu dimana aku akan membuktikan kearjunaanku. Suara tepuk tangan riuh menggema ditelingaku walaupun hanya khayalan yang ku cetak sendiri. Persiapan sudah kulakukan pada malam sebelumnya: Istirahat yang cukup dan sarapan di pagi buta, tak lupa pula aku meneguk sebotol kecil minuman penambah energi, kratingdeng.

Aku memulai perjalanlaku sekitar pukul 05.45 A.M. semangat yang membara dan berkorbar dalam dadaku seumpama para prajurit perang di zaman dahulu yang bermandikan darah demi sebuah kemenangan, seperti itulah jiwaku saat itu yang berjuang demi rasa cinta. Tak peduli seperih apapun kaki ini, sepanas apapun matahari menampar tubuh ini, menusuk pori-pori kulit sawo matang ini karena bagiku adalah sebesar apa dia mengetahui ketulusan dan kesucian cinta ini.

Beberapa kilometer lagi aku akan sampai tujuan, kaki sudah mulai pincang tapi hati tak pernah hilang. Lega rasanya ketika aku menapakkan kakiku dirumahku pertanda aku sudah membuktikan apa yang kurasa. Inilah pertama kali dalam hidupku melakukan hal yang crazy tapi berarti hanya demi seorang wanita yang kusayangi.

Sangat melelahkan memang tapi juga melengkapi ceritaku dalam perjuangan menjadi “Arjuna Pencari Cinta.” Setelah saat itu, dia pun menerimaku kembali sebagai kekasihnya dan semua lelah yang kurasakan, semua darah yang kucucurkan, nanah yang kukeluarkan serta keringat yang kusemburkan, tergantikan oleh senyuman termanis yang kuberikan untuk hidup ini. Suatu pelajaran yang bisa kupetik adalah memang benar pepatah yang mengatakan “berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Jika dalam hidup kita berusaha mati-matian untuk sesuatu, maka kita akan mendapatkannya dan segala letih itu akan terasa hilang ketika kita sudah menggangkat piala kemenangan. Itu pelajarannya.

Hari yang semula agak redup ku jalani, kini sudah mulai terpecikkan cahaya suci dari cinta yang ku nanti. Kami selalu bersama untuk menikmati indahnya pemandangan yang Allah hamparkan di atas bumi ini. Tertawa bersama karena perangai kami sama, suka ketawa. Diapun mengetahui kalau aku sangat suka dengan pisang goreng jadinya dia yang memang suka memasak, menyempatkan diri membuatkanku jenis makanan berselimut tepung tersebut. Enak sekali rasanya walaupun bentuknya kecil-kecil kayak cicak.

Pernah dia marah padaku karena aku datang terlalu lama ditempat kami akan bertemu, dia akan memberikanku pisang goreng. Saat aku datang, dia memang belum datang karena aku menyuruhnya untuk tidak datang sebelum aku SMS. Tapi mungkin karena aku lama mengirim pesan itu, dia mengurungkan niatnya untuk menemuiku.

“tdi blng jm 4, trs jm 5, skrng dh stngh enm sre. Gk jd dh, sy mau istrhat.” dia ketus dalam ucapannya.

“syg, mf. Td hbs bli sbuk krate yg dsruh ma plath,” aku menjelaskan.

“pkokx sy gk kn dtg.titik”

“I love U syg. Sy akn tgu U dsni, d wakaf ini smpai mthari trbenam.”

Sebuah wakaf yang ada dipinggir jalan yang digunakan orang-orang sekitar sana untuk shalat. Ukurannya kecil tapi bersih. Aku benar-benar menuggunya disana sembari membaca sebuah buku agar waktuku tak sia-sia. Kusempatkan diriku berdoa pada Allah agar Dia menggerakkan hati kekasihku yang lagi ngambek untuk menemuiku dan datang padaku. Beberapa menit kemudian, dia benar-benar datang walaupun dengan wajah cemberut tapi tetap cantik bagiku. Penguasa Manusia telah mendengar doaku.

Tak ingin rasanya dia pergi dari hidupku ya Allah. Semakin hari, semakin aku sungguh menyayanginya. Paras yang ia miliki selalu menghiasi lamunanku tatkala sepi melanda hatiku. Rasa kangen ingin bertemu walaupun cuma beberapa hari tidak bertemu. Takut rasanya aku mengecewakan dia sehingga aku menjaga hubungan itu sebaik yang kumampu. Tapi itulah aku sebagai manusia yang tak punya daya ketika Allah berkata lain, menimpaku dengan cobaan  yang perih. Aku terhempas jauh dari keindahan yang Dia berikan. Fiana, dia mengakhiri hubungan ini. Dia benar-benar mengakhirinya karena seseorang yang lama ada dihatinya telah kembali. Kenapa harus terjadi ya Allah? Ketika aku benar-benar menyayanginya, meluangkan waktuku untuk mendengar tawanya, menahan perihku untuk mendengar cerita lamanya. Aku meneteskan air mata ketika aku sadari aku telah terbuang. Aku telah terbuang ya Allah. Apa yang harus kulakukan? Kau harus menolongku ya Allah. Malam yang kulalui begitu mencekamku, memenjarakanku dari semua senyum yang tergores manis beberapa hari yang lalu.

Malam itu, ketika aku telah menerima pesannya, yang aku hanya bisa lakukan adalah memaksa diriku untuk tersenyum walaupun hatiku menangis sedu. Meletakkan kepalaku diatas tanah dalam shalatku tak jua menghentikan tetesan air mata ini hingga aku berdoa dan berserah pada Allah:

“ya Allah, ya Robbi. Ampunilah aku atas segala dosaku yang mungkin telah mengecewakanmu dan membuatmu tak tersenyum padaku. Inikah teguranmu ya Allah? Kau berikan cinta ini padaku untuk mencintainya dan Kau jauhkan aku darinya setelah aku takut kehilangan segala tentangnya, tawanya, cerewetnya dan perhatiannya.”

“mengapa dia harus ada kalau hanya untuk megetehui dia akan tiada? Mengapa ada kata ‘sayang’ kalau dia harus mengucapkan ‘selamat tinggal’? mengapa ya Allah?”

“kembalikanlah dia padaku ya Allah,” pintaku penuh harap. Harapan yang sama persis ketika dia sempat marah padaku ketika aku menuggunya di wakaf, seperti doaku di wakaf.

Malam yang sungguh sunyi kurasakan, bulan yang benderang serta bintang yang berpijar tak dapat menghibur laraku yang sedang termangu. Ku ceritakan semua yang aku rasakan pada sang Khalik walaupun sebenarnya Dia sudah mengetahuinya tapi aku ingin Dia menemaniku malam itu ketika aku lumpuh dalam doa dan lirihku. Kulantunkan ayat-ayat suciNya dalam gelinangan air mata yang menetesi kitab suciku, pasti aku akan ditolongNya, pasti. Tak lama setelah itu, aku terlelap dalam tidurku. Sungguh malang wajah yang sedang tertidur itu, terbuang oleh orang yang disayang, erat memeluk Al-qur’an dengan mata yang mengering.

“Assalatukhairum minannaum…”

Indah sekali suara itu menggema membuka fajar, aku terbangun. Aku merasakan ketenangan yang luar biasa yang kupikir tak akan aku bisa menjamanya lagi. Subhanallah, Dia mendengar doaku, Dia menjagaku dalam lelap dan sadarku, Dia masih menyayangiku, akan selalu menyayangiku. Aku terperanjat dari tempat tidurku, bergegas memakai sarung dan mengenakan peci hitam yang agak kusang, aku berangkat ke masjid untuk bersujud padaNya dan berterima kasih. Senyum, senyum, senyum, aku tersenyum dari keikhlasan hati dan ketenangan jiwa. Aku tahu, inilah caraNya menyayangiku agar aku menjadi lebih baik lagi, aku harus belajar sabar dan ikhlas. Mungkin itu materi yang Dia ingin berikan padaku dan aku akan naik kelas, horeee. Luar biasa, subhanallah.

Entah mengapa, keyakinan yang begitu kuat menghampiriku, aku yakin bahwa dia akan kembali, dia pasti kembali.

“ya Allah yang maha penyayang dan mendengar, Kau menciptakan kami dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, dua tangan untuk  memegang dan dua kaki untuk berjalan tapi Kau hanya memberikan kami satu hati, karena hati yang satunya lagi ada pada orang  yang kita sayangi dan cintai. Jika sebagian hatiku ada  padanya, maka kembalikanlah dia padaku ya Allah. Muliakanlah prilakunya dan tugasku sekarang adalah memuliakan prilakuku sehingga nanti aku akan menjadi pemulia bagi hidupnya, Amin,” kulantunkan doa selepas shalat shubuhku. Doa yang selalu diucapkan oleh seorang motivatorku; pak Mario Teguh. Tenang rasanya hati ini.

Dengan penuh semangat, aku melanjutkan hari-hariku yang indah itu. Berjalan tegap menuju garis akhir yang bahagia karena aku yakin bahwa kebahagiaan pasti akan datang dalam hidupku termasuk dia yang akan kembali padaku, entah kapan sih, yang penting dia akan kembali. “berdoalah padaku, niscaya akan kukabulkan” salah satu ayatNya yang membuatku benar-benar yakin akan janjinya dan harapanku. Ku ambil sebatang board marker dan kutuliskan semua cita-citaku di papan putih yang tergantung di tembok kamar kos temanku; aku tinggal disana beberapa bulan ini. Aku ingin jadi penulis sehingga mulai menulis buku yang berkaitan dengan pengalamanku; CINTA. Tak merasa nyaman aku terkurung dalam kos yang berukuran sempit itu, aku keluar mencari informasi yang aku butuhkan, menemui dosen-dosenku yang bisa membantuku dengan wejangannya seumpama raja, tapi aku senang. Waktu itu aku ditemani teman kosku, Jack. Rambut lurus rapi dengan perut agak buncit karena hobi makan, membuatku tertawa terkekeh ketika aku mengajaknya ke Mall hanya untuk berfoto memakai kemeja, jas dan dasi. Itu gak dibeli, cuma beralasan pada pegawainya untuk mencobanya diruang ganti, padahal aku berpose bak manager hotel yang baru naik gaji. Lucu memang. Disaat itu juga Fiana menelponku tapi tak sempat aku angkat karena sibuk perbaiki dasi pinjaman. Aku memang sudah agak jarang SMS dia karena takut ganggu dia walaupun sebenarnya aku masih menyayanginya. Biarkanlah hati ini jauh lebih tenang dulu, nanti aku menghubungi dia kembali. Suara Jack yang menegurku menghentakku dari lamunan singkatku.

“Mr, hati-hati pakai baju to, itu pinjaman!!”

“ya aku tahu, ssssstttttt. Potoan dulu makanya, entar masukin FB,” aku menjawab sambil cengir.

“ceklikkkk….”

“lagi sekali Mr, gayanya yang mantap,” sarannya bak photographer.

Semua gaya ku pakai, dari gaya manager sampai gaya tukang parkir berdasi.

Puaslah hati kami memakai baju mahal itu, besok aku beli, gumamku dalam hati. Berjalan di dalam toko baju seperti orang kaya dengan langkah tegap, dada dibusungkan dan wajah menjanjikan tapi kedok kami akan terungkap sebagai orang yang tak punya ketika akan membayar uang parkiran, mondar mandir cari recehan atau cukup dengan mengatakan “Bang, kami mau balik lagi. Entar dibayarnya.” Wajah lugu tukang parkir hanya bisa menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya hatinya mengatakan “kurang ajar.”

Sebelum kami pulang, langkahku terhenti sejenak. ”Mr, lihat itu..!!!” Jack menunjukkanku sebuah pengumuman English Speech Contest yang akan dilaksanakan tiga hari lagi. Tanpa pikir panjang, aku sambar tangan Jack dan membawanya naik lagi kelantai 4 karena disanalah pendaftarannya, derap langkah kami terdengar seperti pasukan tentara yang sedang latihan. Semangatku untuk ikut menjulang setinggi langit, meluas seluas samudra dan menukik setajam burung elang. Aku harus mengikutinya karena aku sangat membutuhkan uang itu untuk bayar semesterku, tak lagi aku mau bergantung pada orang tuaku, aku bisa sukses dalam kemandirianku, akan kutunjukkan pada dunia ini. Meski saat itu hatiku sedang terluka dan hancur berkeping-keping tapi tidak mau berpikir pendek, aku masih punya mimpi dan harapan. Sangat kejam sekali diriku membiarkan otak yang lumayan ini jika harus menempel pada tubuh yang pemalas dan lemah, broken heart ya biarin aja dulu yang penting aku tetap bulatkan tekadku untuk bangun dan meneruskan langkahku walaupun perih tapi itu jauh lebih baik dari pada aku terdiam hanya untuk meratapi diri. Semangat !!!

Ku persiapkan segalanya yang harus kutampilkan di atas penggung nanti, harus ku usahakan yang terbaik. Pagi, siang dan malam aku berlatih keras untuk berpidato dengan berpandu pada gaya santai pak Mario Teguh, kucoba dan ya agak bisa sih.

Hari yang kunanti akhirnya tiba jua, hari dimana harus aku buktikan kepiawaianku dalam berbicara, hari  yang akan membuat diriku bangga. Aku mendapat urutan ke 45, sekitar jam 5 sore, tapi semangatku masih menyala ibarat api yang tak pernah kehabisan kayu bakar. Tapi apakah keriangan ini juga dirasakan oleh Fiana setelah melepaskanku dan kembali padanya?? Entahlah. Mungkin dia bahagia atau mungkin juga…, ah tak mau kuberpikir yang buruk, semoga dia selalu bahagia.

“next, it’s number 45…,” pembawa acaranya, pak Dewa, gelegar membaca urutanku.

Dengan baju merah hati berkerahku yang dibuat dari kain songket sukerare, celana panjang hitam dan sepatu pantofel yang sudah robek belakangnya, aku maju dengan gagah berani bak seorang prajurit perang yang melangkah tanpa memperdulikan sejuta ranjo terpasang di areaku. Berbicara santai dengan gaya pak Mario, berintonasi teratur seperti pak SBY dan berkulit sawomatang hampir mirip pak Obama, lengkap pokoknya tapi apa hubungannya pidato dengan kulit ya?? Emang edan.

Tepuk tangan yang meriah setelah kututup pidatoku seakan menghapus semua duga laraku, aku tersenyum manis tanda terima kasihku pada Allah utamanya, baru kepada mereka yang sudi membiarkan kedua telapak tangannya berkelahi sehingga menimbulkan bunyi “opok…opok…”

Ada 48 peserta yang mengikuti lomba tersebut baik dari tingkat SMP, SMA dan UMUM, sehingga tak lama lagi acaranya akan usai. Pengumumannyalah yang ditunggu oleh semua peserta dan penonton termasuk aku yang deg deg kan terus.

Salah satu juri naik ke atas panggung dengan membawa map berisi hasil penjurian yang akan lansung di umumkan oleh beliau, tak sabar rasanya. Pengumuman dimulai dari tingkat SMP, kemudian SMA dan terakhir UMUM. Suara tepuk tangan menggema ruangan itu seakan meyambut kedatangan pak Soekarno untuk membacakan teks proklmasinya, luar biasa. Tibalah saatnya pengumuman untuk tingkat UMUM, nafasku terasa akan terhenti karena nervousnya, lututku tak henti bergetar seperti mesin pemotong kayu, ayo ayo pasti dapet.

“for the third winner, number 46.” Itu nomornya Rozi, teman baruku yang kukenal ditempat itu pula. Dia mendapatkan juara tiga, hebat.

“next, it is the second winner, number 45.” Suara itu membahana ditelingaku. Itu aku, itu nomorku. Ya benar, itulah nomorku. Aku, aku mendapatkannya. Alhamdulillah ya Allah. Girangku bukan kepayang ketika nomorku dipanggil padahal bukan nomor favoritku tapi aku sungguh merasa seakan terbang tinggi ke angkasa, menyibak semua awan yang hitam dan memeluk bintang-bintang berpijar. Horeeee… aku juara dua. Inilah piala pertamaku setelah berkali-kali aku gagal mecari piala, padahal cuma plastik kuning bukan emas, tapi aku sangat mendambakannya, setidaknya jadi hiasan rumah.

“alhamdulillah, sy mndptkan juara 2 dr lmba pdato bhs Inggris di Mall.” Pesan singkat yang ku kirimkan ke orang tuaku,teman dekatku dan termasuk mantanku, Fiana. Ku berharap dia sedikit bangga denganku walaupun sudah berstatus mantan.

Begitu riang hatiku dan begitu juga dengan orang tuaku yang menyambutku seperti seorang pangeran yang baru pulang dari medan perang dengan membawa berita kemenangan, mengalahkan karajaan seberang. “tet toret toteeeeeeeett….!!!!!,” suara terompet yang membahana di lamunanku.  Sungguh luar biasa, senyuman manis orang yang telah melahirkanku dan merawatku, rasa bangga yang tak bisa aku terka  yang bersemayam dalam hatinya dan mungkin mengatakan “dialah anakku”.

Walau bahagia yang kurasakan saat ini, tapi sebenarnya benakku yang begitu dalam, aku masih memikirkannya, bagaimana keadaannya? Apakah dia sudah makan? Apakah dia sedang tersenyum? Aku masih mengharapkannya kembali ya Allah, masih sangat. Bukan maksud hati untuk mengharapkan mereka berantem, aku hanya ingin dia bahagia disisiku tapi kalaupun dia memilih bahagia disisi yang lain, aku hanya bisa mengikhlaskannya dan mendoakannya. Memang perih sekali hati ini, tapi ya sudahlah, ini hanya masalah waktu.

Malam itu, aku mendapat SMS darinya, ucapan selamat atas juara itu, tapi kondisinya tidak sebahagia hatiku, dia terluka. Ya dia benar-benar terluka karena ternyata dia terkhianati oleh cintanya yang lama itu. Sebenarnya, bukan masalah berapa lama hubungan itu terjalin tapi berapa besar ketulusan itu masih tersimpan dalam janji yang telah terucapkan. Ketulusan dan keikhlasan mencintainya karena Allah, itu sebenarnya tolak ukur hubungan yang baik. Aku takut sekali melukai perasaannya, malah yang lain yang melukainya. Fiana mengakhiri hubungannya dengan lelaki itu yang aku tak tahu siapa namanya, dan aku gak mau tahu juga siapa dia, yang aku tahu, dia telah menyakiti orang yang aku sayangi.

Tak bisa aku bahagia melihat kilauan cahaya yang terpantul dari pialaku itu sedangkan orang yang aku sayangi sedang membasahi pipinya dengan tetesan air matanya. Aku tak mau membiarkan dia jatuh hanya karena luka itu, dia harus bangkit dan kembali tersenyum untuk hidup yang indah ini. Tak henti-hentinya kuberikan dia semangat seumpama aku adalah seorang penonton yang bersorak memberikan semangat kepada atletnya. Ku hibur dia sampai kudengar lagi tawa ala kuntilanak itu, aku tak mau mendengar isak tangis pilu itu.

“Ah sifit, gak cantik kalo nangis, mirip Mpok Ati…!!!” sedikit ku dengar tawanya melalui telpon genggamku. Aku merasa seperti Spiderman yang menyelamatkan MJ dari monster pasir. Keren!!! Aku berusaha untuk menghiburnya setiap saat dan semampuku, terkadang ayam-ayampun naik pitam karena aku bangun kesiangan karena semaleman aku menghiburnya sampai lupa waktu asalkan aku bisa mendengar kembali tawa khas kuntilanak itu. Lucu sekali…!!  

Dalam sebaris doa yang kupanjatkan pada Sang Pencipta, selalu kuselipkan doa untuknya agar dia diberi ketegaran dalam menghadapi masalah ini dan menjadi orang yang jauh lebih baik lagi karena kejadian ini. Semoga dia mendapatkan kebahagiaan dengan orang yang jauh lebih baik, keberharap orang itu aku, dasar promosi diri. Dia sangat istimewa bagiku ya Allah, dia bagaikan lentera yang menghiasi hati ini.

Beberapa hari setelah itu, tepat pada tanggal 5 Maret 2011, entah mengapa dia ingin kembali padaku, dia ingin kembali menjadi kekasihku dan berjanji untuk tidak akan mengecewakanku lagi. Aku berharap begitu dan aku percaya padanya sepenuh hatiku. Tenang rasanya hati ini setelah aku benar-benar belajar arti sebuah kesabaran dan keikhlasan ketika ia meniggalkanku dan kembali padaku karena itulah pintaku pada Allah SWT.

Mungkin dia berpikir, aku akan meninggalkannya

Ketika ia membuangku…

Mungkin dia berpikir, aku akan memalingkan wajahku

Setelah ia meludahiku…

Mungkin ia berpikir, aku akan melukai kulitnya

Ketika ia menusuk cinta suciku…

Tapi ia tak pernah berpikir, betapa kuat kata-kata yang kuucapkan padanya

“kamu adalah yang terakhir dalam hidupku”

Senyum manis yang sempat menghilang menghiasi hari-hari kami, kini telah kembali menyertai kami dalam cinta ini. Karena bahagia bersemayam di hati ini, aku kaku. Aku kaku mengucapkan sepatah katapun padanya. Air mata suci ini mengalir membasahi kekeringan di bibir ini sehingga tergeraklah pita suaraku untuk mengatakan sesuatu pada wanita cantik berperangai bidadari surgaku ini hanya dengan empat kata “I LOVE YOU Na.”Gambar

 

~THE END~

2 thoughts on “SEPERTI DOAKU DI WAKAF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s